Catatan : Puguh Tjahjono Sadari Warudju
Departemen Filsafat Seni dan Kajian Seni Rupa serta Desain
Universitas Indraprasta PGRI Jakarta
Munculnya berita di berbagai media sosial perihal mulai nyata adanya gerakan atau aksi demo mahasiswa dan masyarakat sipil di Jakarta bahkan banyak lebih artikulatif yang terjadi kota-kota strategis pada wilayah-wilayah Indonesia, memang mengejutkan dan sedikit menghibur lantaran kesadaran demokrasi dan berdaulat masih ada. Misi yang dibingkai ke dalam yargon adalah : ADILI JOKO WI !!.
Dan para pakar pun memandang bahwa perlahan tapi pasti geliat aspirasi untuk desakan kepada Pemerinah agar melaksanakan keputusan rakyat tersebut, segera harus dipenuhi. Yang semula hanya menulis pada aksi-aksi grafiti, berkembang kepada aksi nyata demo memenuhi jalanan tertentu pada titik-titik kota yang dipandang sangat strategis untuk diserap subtansi dan pesan aksinya oleh pihak yang berwenang, (Prof. Ikrar Nusabhakti-chanel).
Sungguh mengagetkan dalam dua tiga hari belakangan ini ternyata gerakan aksi demo kian massif dengan atribut-atribut pesan grafis yang menohok, satire. “Gibran Nyimeng Yuk,!!, plesetan diksi efiensi menjadi efisenshit dan seterusnya. Intinya, Prabowo dan rejim nya digugat, karena setelah 100 hari kinerja kabinetnya ternyata malah memunculkan citra yang sebenarnya sangat tidak dikehendaki oleh masyarakat Indonesia, kecuali para buzzer dan pemuja rezim sebelumnya.
Lantas apa makna dengan peneguhan aksi demo ini dengan teks : INDONESIA GELAP ? . Kita bisa berasumsi bahwa itu sebuah pernyataan kecewa sebagaimana ungkapan sehari-hari “Au ah elap (tahu ah gelap) !! ” Gelap bermaknakan suatu keadaan yang tidak ada potensi adanya refleksi, yaitu munculnya wujud materi (bendawi) atas pantulan cahaya, pendek kata gelap terjadi karena tidak ada cahaya (Eisntein).
Cahaya dalam konteks prosesi kerja Presiden Prabowo dengan kabinetnya, adalah berdekatan dengan masih adanya harapan untuk memperoleh pemimpin yang benar-benar riil mensejahterakan rakyat, membawa jiwa persatuan pada rakyat untuk ikut membantu mewujudkan Indonesia melompat dari kubangan permasalahan-permasalahan ekonomi, sosial politik dan budaya yang sangat kritis oleh akibat salah urus di masa sebelumnya. Harapan adalah cercah cahaya bagi semua saja yang mendamba, yang masih dihimpit oleh kegelapan-kegelapan yang dimaksudkan itu. Apalagi mengingat bahwasanya naik tahtanya Pak Prabowo bila dikoreski secara jujur, juga tidak jernih-jernih amat, tidak steril dari berbagai muslihat buruk walau bukan bersumber dari gagasan beliau pribadi, melainkan dari kompartmennya yang punya mau lebih jauh dari kemenangan Pak Prabowo secara pribadi, dan bukan lagi menjadi rahasia umum.
Namun barangkali dengan fakta administratif, beliau menang dan jadi Presiden. Saya secara pribadi, maupun juga dari banyak kalangan pengamat dan para penjaga akal sehat demokrasi, masih mencoba menahami untuk tidak tergesa melontarkan kritik tajam mengenai arah strategi dan kebijakan yang ditempuhnya dengan toleransi menunggu paska 100 hari kinerja. Bila toh ada kritik, tidak terlalu menguat, setidaknya belum menjadi instrumen perlawanan. Kritik misalnya pada soalan kabinetnya yang terlalu gemuk, masih kentalnya “figur-figur titipan”, sikapnya yang belum jelas terhadap sorotan masyarakat soal Fufufafa yang mengundang banyak spekulasi, pertanyaan terhadap urgensinya aktifitas retreat atau mapram di Akmil Magelang, tidak efisensinya bahkan gagalnya Program Makan Siang Gratis, tidak urgens-nya penempatan orang-orang tertentu pada struktur kepemerintahannya, terlebih tidak adanya koneksitas kapabilitas dengan tugas-ugasnya secara signifikan, bahkan terbukti terjadinya komunikasi publik yang buruk.
Kekecewaan masyarakat alih-alih terobati, tetapi yang terjadi justru sebaliknya bahwa luka pada masyarakat malah diperdalam dan diperlebar adanya ratifikasi yang membuat si tokoh yang mestinya tertolak oleh aspirasi rakyat, malah dibuat eskalatif posisinya yang sebenarnya tidak strategis. Untuk apa? Dan pada akhirnya malah mengundang berbagai spekulasi yang semestinya diletakkan bahwa ini nantinya malah menjelma menjadi gangguan yang signifikan, rakyat sipil biasa saja kecewa apalagi komponen yang terintegrasi dalam institusi karir profesional terkait?
Kekecewaan juga dikuatkan oleh pernyataan-pernyataan kepada publik terhadap romantisme dan melekatnya dengan sosok yang paling akut untuk ditolak dan dituntut tanggung jawab kenegarawanannya selama ini.
Mustinya aspirasi dan opini masyarakat luas baik langsung maupun yang terwakili oleh para pengamat para ahli, para ilmuwan, para cerdik cendekiawan, apalagi yang sudah berlevel begawan – harus lebih intensif didengar, disimak dan direnungkan hakikat kebenarannya, katimbang condong menedengar suara hati yang berpotensi untuk berakumulasi laten terhadap proses glorifikasi diri. Belum lagi lebih mempercayai pada bisikan-bisikan lingkar dalam yang mengeliligi secara dekat, yang scara emphiris lebih condong menuju kepentingtan jangka pendek dan tidak jarang memiliki karakter menggunting dalam lipatan.
Seperti halnya yang digambarkan dalam pewayangan Duryudono lebih mendengar Sengkuni dan Pandita Durna yang niscaya justru menyudutkan Duryodono pada posisi kerumitan-kerumitan yang lebih pelik. Maka kisah-kisah tradisional adalah kaya dengan kelindannya nilai-nilai luhur manusia. Don Quixote, Nasarudin Hoja (Abunawas), Panakawan, Kisah Seribu Satu Malam, Dongeng Burung Bul-Bul, merupakan sederet fiksi yang dapat dijadikan acuan bahwa pemimpin itu tak luput dari kejenakaan dalam konteks filsafat, kebijakannya seringkali sangat memungkinkan sebagai wujud paradoks atas nilai dan kenyataan. Kewibawaannya luntur oleh tidak adanya konsistensi dan komitmen, siapa yang secara valuable harus dibela. Kepentingan daulat rakyat atau kepentingan eksklusif jangka pendek? Suara oposan (dari seberang) tidak bijaksana bila selalu diletakkan sebagai suara ancaman, justru sebaliknya akan lebih fortunable bila ancaman dilihat sebahgai sesuatu yang membawa hikmat yang dapat dipakai sebagai pijakan melangkah dengan aman.

Negeri kita kaya falsafah yang membawa perilaku dengan benar. Ajaran-ajaran untuk menjadi pemimpin ideal, termaktup pada Serat Wulangreh, Wedhatama, dan lain-lain dari para dwija sarjana sujana (para guru besar) serta filsuf yang luar biasa mumpuni dalam endapan temuan ilmunya. Namun untuk bersenyawa dengan ajaran-ajaran tersebut di atas tentu memerlukan kemauan, kemampuan dan ketekunan, Pertahanan mental harus dijaga. Lagi-lagi kapitalisasinya adalah penghayatan terhadap nawaitu (niat tulus) dan implementasi dan operasionalisasi instrumen intelektual dan spiritualnya untuk mencapai kejernihan tujuan, Itulah yang tampaknya berdekatan dengan terminologi istiqomah.
Menjadi pemimpin lebih memilih kepada kerja keberhasilan program pembangunan niscaya akan lebih berhasil dari pada disambil (disambi) bahkan lebih menguatamakan persiapan suksesi atau kemenangan berikutnya. Tanpa upaya-upaya pragmatis (penggalangan suara yang kadang malah cenderung manipulatif), tetapi sebaliknya dengan keberhasilan mewujudkan harapan dan cita-cita rakyat, maka dukungan terhadap tampuk kepimpinan berikutnya akan dengan sendirinya terwujud dengan lebih jernih serta kuat. Itulah wujud keimanan sejati. Tidak kawatir atas balasan Tuhan terhadap kebaikan yang telah diperbuatnya. Berbeda dengan menjadi kawatir dan takut tidak terdukung maka ikhtiarnya hanya pada supaya menang entah apapun caranya.
Falsafah Jawa yang lahir tatkala Indonesia modern mulai muncul, salah satunya adalah permenungan KH Dewantara yang sampai sekarang menjadi kredo pendidikan nasioal kita, yakni Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani.
Bila diterjemahkan secara lugas ing ngarsa sung tuladha, seorang pemimpin di depan harus memberi contoh, bila mengajak masyarakat melakukan efisiensi anggaran, misalnya, para pemimpin harus tampil sebagai real role model, yaitu benar-benar nyata menempuh langkah-langkah keteladanan yang nyata, tidak berfoya-foya, tidak manja untuk selalu minta dilayani oleh rakyat tetapi sebaliknya mengutamakan layanannya terhadap rakyat, tidak menerapkan program dengan anggaran besar tetapi tidak proporsional. Mengingat bahwa proporsi itu adalah bagian dari kaidah keindahan (estetika). Kehidupan tata negara dan politik termasuk dari kerja estetika, sebab Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan keindahan dan serba terukur.
Ing madya mangun karsa, seorang pemimpin harus selalu di tengah keterlibatannya dengan rakyat, tidak terpisah, apa yang dikehendaki rakyat adalah pekerjaan yang harus dikelola menjadi kebijakan akomodatif. Jumbuhing kawula Gusti. Rakyat dan Pemimpin harus bersatu padu mewujudkan cita-cita negara dan bangsa. Dngan demikian pemimpin tidak lupa terhadap aspek keindahan yang disebut unity (kesatuan). Seluruh elemen kepentingan negara harus berlangsung dengan bersatu padu, terukur, seimbang atau selaras, berirama dengan situasi kendala dan pendukung, yang memunculkan nada prioritas ada unsur emphasis (penekanan atau titik berat).
Tutwuri Handayani, artinya seorang pemimpin harus berani tampil ideal termasuk berada di belakang rakyat sebagai penopang atau tulang punggung, yakni mengikuti aspirasi dan opini rakyat yang memang mendesak dan sesuai dengan kualitas cita-cita atau tujuan bersama. Pemimpin harus berani bertindak moderat, tidak intervensif apalagi reprersif, tapi justru berani tampil membuka kanal-kanal demokratis dan emansipatorisme rakyat. Pemimpin tidaklah kaku melainkan mengalir dari belakang dengan kekuatan besar demi keberhasilnya tujuan bersama.
Indonesia Gelap, satu sisi menggembirakan lantaran ada tanda yang masih dapat terbaca bahwa jejak-jejak ingatan kolektif dan kesadaran kolektif masih dapat dijadikan sandaran harapan besar. Namun di era peradaban manusia dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mestinya eskalatif, tampaknya opsi aksi demo seperti ini akan meledakkan people power yang niscaya mahal harganya. Peradaban kita makin maju, masak iya masih hendak mengorbankan para muda dalam situasi yang secara emphiris adalah tragedi? Nah mari kita meyakini bahwa suara kritisi dari pihak seberang (di luar lingkar internal kekausaan), sebaiknya berkenan direnungkan, lebih mendalam dan luas.*
